This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Senin, 01 September 2014

kisah nyata nenek tua

Ini adalah sebuah kisah nyata tentang semangat seorang nenek tua yang berjuang keras menghidupi diri sendiri. Seorang nenek tua yang berjibaku di tengah derasnya arus modernisasi dan kehidupan glamor orang-orang borjuis. Seorang nenek tua yang lemah nan renta yang mencoba bertahan hidup dengan penuh kemandirian dan kejujuran tanpa mau meminta belas kasihan orang lain diantara orang-orang yang mampu dan berkecukupan yang selalu berkeluh kesah.
Alkisah, ada seorang teman menceritakan kekagumannya pada seorang nenek yang mangkal di depan Pasar Godean, Sleman, Yogyakarta. Ketika itu hari Ahad, saat dia dan keluarganya hendak pulang usai silaturahim bersama kerabat, mereka melewati Pasar Godean, Sleman, Yogyakarta.
Ibu dan teman saya tergoda membeli ayam goreng di depan pasar untuk sajian makan malam. Kebetulan hari mulai gelap. Di samping warung ayam goreng tersebut ada seorang nenek berpakaian lusuh bak pengemis, duduk bersimpuh tanpa alas, sambil merangkul tiga ikat sapu. Keadaannya terlihat payah, lemah, dan tak berdaya.
Setelah membayar ayam goreng, ibu teman saya bermaksud memberi Rp. 1000,- (tahun 2004) karena iba dan menganggap nenek tadi pengemis. Saat menyodorkan lembaran uang tadi, tidak diduga si nenek malah menunduk kecewa dan menggeleng pelan. Sekali lagi diberi uang, sekali lagi nenek itu menolak. Penjual ayam goreng yang kebetulan melihat kejadian itu kemudian menjelaskan bahwa nenek itu bukanlah pengemis, melainkan penjual sapu. Paham akan maksud keberadaan sang nenek yang sebenarnya, ibu teman saya akhirnya memutuskan membeli tiga sapunya yang berharga Rp. 1.500,- per ikat. Meskipun sapunya jarang-jarang dan tidak bagus, ikatannya pun longgar.
Menerima uang Rp. 5.000,- si nenek tampak ngedumel sendiri. Ternyata dia tidak punya uang kembalian.
“Ambil saja uang kembaliannya,”, kata ibu teman saya.
Namun, si nenek ngotot untuk mencari uang kembalian Rp. 500,-. Dia lalu bangkit dan dengan susah payah menukar uang di warung terdekat.
Ibu teman saya terpaku melihat polah sang nenek. Sesampainya di mobil, ia masih terus berpikir, bagaimana mungkin di zaman sekarang masih ada orang yang begitu jujur, mandiri, dan mempunyai harga diri yang begitu tinggi.
Tidak ada salahnya bagi siapapun khususnya yang berada di sekitar Pasar Godean, Sleman, Yogyakarta untuk membantu sang nenek tua penjual sapu lidi ini dengan membeli barang jualannya, bukan dengan memberinya uang layaknya pengemis. Semoga Allah SWT membantu sang nenek dan anda dan mendapat balasan kebaikan yang melimpah di sisi Allah SWT.
(Kisah ini ditulis oleh Rizky Taufan, di Kudus, sebagaimana yang termuat di Majalah Intisari Agustus 2004, diambil dari Toko NU Online).
Kisah Nyata: Seorang Nenek Tua Penjual Sapu Lidi yang Jujur dan Mandiri was last modified: September 1st, 2014 by Pejuang Ahlussunnah in Ngaji Yuk! - Kajian Ceramah Islam Ahlussunnah wal Jamaah.

Senin, 11 Agustus 2014

KH Sholeh Iskandar



                  KH  Sholeh Iskandar





sebagai sosok ulama kharismatis di wilayah Bogor atau Jawa Barat, KH (Alm) Sholeh Iskandar dikenal sebagai seorang ulama pejuang yang gigih menentang kolonialisme Belanda di Indonesia yang telah mencengkram Indonesia selama 3,5 abad. Masa mudanya dihabiskan di medan perang, yakni sebagai Komandan Hizbullah di wilayah Bogor Barat meliputi Leuwiliang dan Jasinga.Kemampuan dan kehandalannya mengorganisir pertahanan bersama pasukannya untuk mempertahankan setiap jengkal tanah Bogor dari invasi Belanda dan pasukan sekutu diakui sendiri oleh pemerintah Belanda. Para komandan perang Belanda mengakui bahwa Sholeh Iskandar adalah salah satu ahli strategi perang gerilya yang dimiliki Indonesia di masa perang merebut dan mempertahankan kemerdekaan.
Selepas Indonesia merdeka, Sholeh Iskandar aktif dalam kegiatan politik dan menjadi salah satu pengurus partai Masyumi bersama KH Muhammad Natsir, KH Nur Alie (Bekasi) dan lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan dengan gagasan Nasakomnya Soekarno (Presiden pertama RI). Perbedaan faham dan politik dengan Soekarno itulah pada akhirnya pentolan Masyumi seperti M, Natsir dan KH Sholeh Iskandar harus meringkuk dalam penjara selama beberapa tahun di Jakarta.
Selepas dari penjara, KH Sholeh Iskandar akhirnya lebih banyak bergerak di bidang sosial dan pendidikan. Gagasannya sangat maju dan visioner melebihi jamannya. Betapa tidak, lelaki kelahiran Kampung Pasarean, Kecamatan Pamijahan ini merubah tempat kelahirannya menjadi sebuah perkampungan yang modern dengan tata ruang yang sangat memenuhi syarat kesehatan dan lingkungan yang tertata dengan baik. Penataan yang demikian inovatif ini menjadikan Kampung Pasarean tercatat sebagai Kampung pertama di dunia ketiga yang memiliki penataan yang rapi.
Tidak hanya itu, sentuhan emas KH Sholeh Iskandar bisa dilihat sampai sekarang yakni keberadaan Pesantren Pertanian Darul Fallah di kawasan Cinangneng Ciampea Bogor. Beliau tercatat sebagai pendiri dan sekaligus sebagai Ketua Yayasan dari 1960-1992. Selain itu, KH Sholeh Iskandar terlibat aktif dalam proses pendirian Rumah Sakit Islam Bogor dan Universitas Ibnu Khaldun.
Kiprah sosial KH. Sholeh Iskandar tidak berhenti sampai disitu, diusianya yang mulai menua, Sholeh Iskandar masih memikirkan tingkat kemakmuran dan perekonomian wilayah Leuwiliang dan sekitarnya yang masih terbelakang. Atas inisiatif dan gagasannya pula, KH Sholeh Iskandar mendirikan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Amanah Ummah, untuk mempercepat dan mempermudah akses ekonomi dan permodalan bagi kelompok usaha kecil dan menengah (UKM). Sampai sekarang kinerja BPR Amanah Ummah sangat menggembirakan dengan aset mencapai puluhan miliar rupiah. Sumber HARIAN UMUM PELITA (encep azis muslim)